Senin, 28 Februari 2011

from JOGJA with LOVE

Jogja adalah kota yang romantis. Yang bener? Seromantis apa sih?

Ga sengaja gue berkesempatan buat kunjungin Jogja lagi menjelang Valentine. Berangkat 12 Febuari malam pake kereta ekonomi Bengawan. Ga penting juga sih momen Valentine itu, secara gue ga ada kepentingan juga buat ngerayain. Yang pasti gue kesana buat kabur dari kehidupan gue. Lari dari kenyataan nih ceritanya :'(

Baru kali ini gue ke Jogja bukan dalam rangka untuk kunjungin Mbah di Prambanan. Bahkan ga bilang2 kalo gue lagi jalan2 kesana. Namanya juga kabur, masa' harus bilang2. 'Maafin cucumu yang bandel ini ya Mbah. Besok ga lagi2 deh...' (soalnya besok2 pengen kabur ke Raja Ampat aja :p)

Datang ke Jogja memang selalu membangkitkan kenangan bagi gue pribadi. Secara dari kecil gue selalu dicekokin dengan doktrin2 njawani sama keluarga bokap. Walaupun sekarang sih ga banyak juga yang masih mendekam di otak gue. Emang jawa kafir nih gue! Tapi tetep aja gue bangga koq dengan darah jawa yang mengalir di tubuh gue. 

Jogja memang istimewa dengan segala keramahannya. Kaya'nya hampir ga pernah gue liat orang yang marah sampe ke ubun-ubun disini. Ga kedengeran tuh sumpah serapah yang keluar dari mulut2 mereka sekalipun sedang marah. Ga ada ceritanya tarik urat ataupun adu jotos saat berselisih pendapat. Tipikal orang jawa pada umumnya lah, mereka yang santun, ramah, cinta damai deh. Pisss masbro & mbaksist... ^_^ v


Jogja Nite
Satu unforgetable momment adalah saat menyusuri Alkid - Kraton - KM 0 - Malioboro - Tugu pas tengah malam. Jalan kaki lho... Gue sangat menikmati tiap langkah yang gue ayunkan. Mulai dari pasar malam sekatenan yang rame, sisi kebangsawanan Kraton, wajah anak muda Jogja di KM 0, pedagang Malioboro yang mulai menutup lapaknya, sampai beragam angkringan disepanjang jalan Malioboro - Tugu. Jogja telah menghipnotis gue dengan segala pesona malamnya.

Dalam perjalanan inilah gue merasakan sisi romantisme dari Jogja. Entahlah, susah buat gue ungkapkan secara verbal ataupun lewat kata. Sengaja gue memisahkan diri dari rombongan, jalan beberapa meter lebih awal supaya bisa menikmatinya tanpa diusik oleh obrolan dan candaan. Ya, gue menikmati tiap detik yang terlewati seiring langkah yang semakin dekat dengan tujuan. 

Bukan seperti sepasang kekasih yang membunuh waktunya dengan kebersamaan. Bukan pula seperti sepasang suami istri yang menghiasi malam dengan memadu kasih. Bukan seperti itu. Tapi gue lebih merasakan sisi keromantisan yang hangat dan nyaman. Seperti saat dalam pelukan ibu, saat bergandengan tangan dengan bapak atau saat curhat sepanjang hari dengan kakak dan adik. 

Yup, Jogja menghadirkan sisi keromantisan dalam keluarga. Hubungan ibu dengan bapak, bapak dengan anak, anak dengan ibu, adik dengan kakak.

Tulus

Hangat

Nyaman

Damai

Indah






  Song by: Kla Project 

1 komentar:

  1. asooyyyy dehhh tante..

    aku juga jatuh cinta ma jogja.

    BalasHapus

monggo...